Petinggi Diplomat Suriah Membelot

BAGHDAD – Duta Besar Suriah untuk Irak Nawaf Fares membelot ke kubu oposisi dan menyarankan militer untuk angkat senjata melawan rezim Presiden Bashar al-Assad. Fares merupakan diplomat senior Suriah yang pertama menyatakan pembelotan secara terang-terangan terhadap Assad. “Saya mengumumkan pembelotan saya dari posisi saya sebagai perwakilan Republik Arab Suriah di Irak dan pengunduran diri saya dari jabatan Partai Baath,” ujar Fares kepada Al Jazeera. “Saya semua orang bebas dan kaya di Suriah, khususnya militer, untuk secepatnya bergabung dengan revolusi,” katanya. “Arahkan senapan dan tank Anda ke para penjahat di rezim yang membunuhi rakyatnya sendiri.” Fares mengkonfirmasi keputusannya dalam pernyataan yang ditampilkan pada akun Facebook-nya. Fares sendiri ditunjuk menjadi duta besar ke Baghdad pada 2008. Dengan bendera revolusioner Suriah di belakangnya, dia menyerukan anggota partai untuk melakukan hal serupa karena rezim telah berubah menjadi alat untuk menekan rakyat dan aspirasi mereka untuk kebebasan dan harga diri. “Saya mengumumkan, sejak saat ini, bahwa saya memihak revolusi rakyat di Suriah, tempat saya yang sesungguhnya di tengah situasi Suriah yang sangat sulit saat ini,” katanya. Dari Washington, Juru Bicara Gedung Putih Jay Carney mengatakan ada sejumlah pembelotan pada tataran pejabat tinggi pada beberapa hari dan pekan ini. “Mereka itu seperti puncak gunung es,” kata Carney dikutip AFP. Menurut Carney, pembelotan sebagian besar terjadi pada kepemimpinan militer dan pemerintah. “Saya pikir, itu merupakan indikasi yang menunjukkan dukungan bagi Assad semakin menurun, baik internasional dan internal. Itu merupakan perkembangan yang menggembirakan,” katanya. Upaya ini ditempuh Fares setelah sepekan setelah seorang jenderal Suriah dari keluarga berkuasa yang dekat dengan Presiden Assad juga membelot. Jenderal Munaf Tlass merupakan pejabat militer berpengaruh. Tlass pun melarikan diri keluar dari Suriah melalui Turki. Sebelumnya, sejak Mei 2011, dia menjalani tahanan rumah karena menentang perintah Assad. Pembelotan Fares dan Tlass menjadi tekanan yang sangat kuat bagi Assad. “Rakyat telah kehilangan kepercayaan terhadap Assad,” kata pakar Timur Tengah, Fawaz Gerges dari London School of Economics. “Jika posisi Anda berada di Suriah, maka kita tidak akan berbicara mengenai satu alternatif apapun sebagai solusi terhadap rezim Assad,” katanya. Dalam pandangan Gerges, pembelotan merupakan tekanan moral dan politik. Sinyal-sinyal itu menunjukkan bahwa tidak semua rakyat Suriah berada di kubu Assad. “Itu merupakan perang ekonomi dan psikologis,” katanya. Kemudian, menurut Mohamed Sermini, anggota Dewan Nasional Suriah (SNC), kelompok oposisi utama, mendeskripsikan pembelotan Fares itu sebagai sebuah awalan. “Ini merupakan sebuah awalan terhadap serangkaian pembelotan di tataran diplomatik. Kita tengah menghubungi beberapa duta besar lainnya,” katanya. Sementara itu negara-negara Barat mendesak PBB untuk mengancam sanksi keras terhadap Suriah saat Dewan Keamanan PBB membuka pembicaraan mengenai masa depan misi pengawas Dewan Keamanan harus meloloskan resolusi baru sebelum mandat misi tersebut berakhir Jumat minggu depan. Baik Inggris, Prancis, Jerman dan AS telah mengirimkan draf resolusi DK-PBB yang memberikan kesempatan bagi Assad selama 10 hari untuk mengimplementasi Rencana Perdamaian utusan PBB-Liga Arab Kofi Annand. Jika Suriah tidak melaksanakan itu, maka Assad bakal menghadapi sanksi baru. Sepertinya, Rusia dan China bakal menentang resolusi yang diajukan Barat itu. Rusia sendiri telah menyebarkan draf resolusi sebagai solusi atas krisis Suriah, yakni perpanjangan misi pemantau PBB dan tidak ada konsekuensi jika terjadi pelanggaran. Pada pekan lalu, sebanyak 100 negara bertemu di Paris untuk mendesak Dewan Keamanan untuk memberlakukan Pasal 41 Piagam PBB. Dengan pemberlakuan itu, maka DK PBB dapat mengijinkan pemberian sanksi ekonomi, diplomatik dan perjalanan serta intervensi militer. “Pandangan kita adalah DK-PBB butuh rencana dengan Bab 7, sehingga semakin jelas,” kata Duta Besar AS untuk PBB Susan Rice. (andika hendra m)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inovasi Belanda Tak Terpisahkan dari Bangsa Indonesia

Badai Terjang Australia, 3 Orang Tewas

Belajar Inovasi dari (di) Belanda