Panglima Militer Korut Dipecat

SEOUL – Panglima militer Korea Utara Korut Ri Yong-ho kemarin dilaporkan dipecat karena menderita sakit. Selain menjabat panglima militer, Ri adalah wakil ketua komisi pusat militer dan menduduki jabatan puncak Partai Pekerja. Dalam pernyataan singkat, Partai Pekerja mengatakan bahwa Ri dicopot dari jabatannya karena sakit. Banyak pihak tidak percaya terhadap penjelasan resmi dibalik pencopotan Ri. Kantor berita Korea Utara KCNA melaporkan pencopotan Ri diputuskan dalam pertemuan komite sentral poltibiro Partai Pekerja pada Minggu (15/07). Namun demikian, laporan singkat itu tidak menyebutkan siapa pengganti Ri. Ri ditunjuk sebagai panglima militer tiga tahun lalu oleh Kim Jong-il, pemimpin Korut saat itu, yang meninggal pada Desember 2011. Sebagai panglima militer, Ri serta pejabat sebelumnya secara teratur muncul dalam acara-acara kenegaraan, mendampingi Kim Jong-il. Ri Yong-ho dikenal pula sebagai salah satu dari tujuh pejabat tinggi yang menemani Jong Un saat mengikuti mobil jenazah yang berisi jasad ayahnya menuju tempat pemakaman. Ri secara luas dianggap sebagai tokoh dalam lingkaran pemimpin Korut yang baru dan berperan membantunya dalam memperkokoh posisi kekuasaannya. Pemecatan sepihak itu diprediksi para analisis berkaitan dengan kekuasaan pemimpin baru Kim Jong-un yang ingin semakin kuat dalam mengendalikan militer. Pemecatan itu dinilai aneh, pasalnya Ri dikenal sebagai salah satu figur penting yang mendukung Jong-un setelah meninggalnya Kim Jong-il pada Desember silam. “Pengumuman pemerintah Korut mengenai Ri, 69, sangat cepat dan tidak biasa,” kata Juru Bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan (Korsel), Kim Hyung-suk, dikutip AFP. Dia menambahkan bahwa Seoul terus memantau berbagai langkah yang dilakukan Pyongyang. Kemudian, Profesor Yang Moo-jin dari Universitas Kajian Korut di Seoul mengaku skeptis dengan alasan yang diberikan atas pemecatan panglima perang yang sangat berpengalaman itu. “Dia (Ri) mungkin tidak memiliki hubungan baik lagi dengan Jong-unatau kalah dalam pertarungan kekuasana dengan para pemimpin militer lainnya,” tegas Yang. Pasalnya, Pyongyang jarang mengumumkan pemecatan pejabat karena alasan kesehatan. Selanjutnya, dalam pandangan Paik Hak-soon dari Institut Sejong, menyatakan Jong-un mungkin ingin memperkuat pengaruh partainya terhadap militer. Itu disebabkan karena doktin “Songun” atau militer-pertama. “Jong-un bakal memastikan bahwa partainya tetap menguasai militer dalma kekuasaannya. Upaya itu itu telah dilakukan oleh Jong-il sejak akhir 2010 sebelum dia meninggal,” kata Paik. “Ri dikenal sebagai generasi tua semasa dengan Jong-il. Jong-un sepertinya bakal menggantikan Ri dengan figur yang lebih muda dan lebih dekat dengan partai atau seseorang yang lebih mudah dikontrol,” imbuh Paik. Kesetiaan Ri terhadap Korut tidak diragukan lagi. Ri juga pernah menyebut pemimpin Korsel Lee Myung-baik sebagai “anjing gila” dan “sakit jiwa”. Ri berulang kali mendeklarasikan “perang suci terhadap Seoul karena selalu menghina kepemimpinan Korut. Sementara itu, Korut kemarin menuding Korsel dan Amerika Serikat (AS) memanfaatkan para pembelot untuk melakukan misi subversif yakni merusak patung dan monumen untuk mengenang mending Jong-il. Pyongyang menjelaskan sejumlah pembelot, termasuk warga Korut yang membelot ke Korsel, ditangkap dalam beberapa bulan terakhir karena merusak patung dan monumen. Ditegaskan oleh komite reunifikasi perdamaian Korut, otoritas intelijen Korsel telah merekrut para pembelot untuk menyusup ke Korut. “Para pejahat dan pembelot itu disuap oleh AS dan badan intelijen Korsel untuk melakukan aktivitas subversif dan sabotase,” demikian pernyataan komite tersebut. Sebanyak 23.500 pengungsi bermukim di Korsel sejak perang Korea pada 1950-1953. Korut menggambarkan para pembelot itu sebagai “manusia sampah” yang menggadaikan negaranya sendiri. (andika hendra m)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inovasi Belanda Tak Terpisahkan dari Bangsa Indonesia

Badai Terjang Australia, 3 Orang Tewas

Belajar Inovasi dari (di) Belanda