Putin Kembali Rebut Kremlin

MOSKOW – Pemimpin Rusia Vladimir Putin kemarin dinyatakan berhasil merebut kembali Kremlin setelah menang mutlak 64% dalam pemilu presiden.

Meski berhasil mendapatkan mayoritas suara, Putin menghadapi protes dari kubu oposisi yang menyebut pemilu itu diwarnai kecurangan. Dia berhasil memenangkan kembali kursi kepresidenan Rusia yang sebelumnya pernah didudukinya pada 2000 hingga 2008 sebelum dia menjadi perdana menteri (PM).

“Berdasarkan hasil sementara, Vladimir Vladimirovich Putin terpilih menjadi Presiden Federasi Rusia,” ujar kepala Komisi Pemilu Pusat Vladimir Churov dikutip AFP.

Putin yang pernah menjabat sebagai Direktur KGB itu memenangkan pemilu dalam satu putaran karena rival terkuatnya Gennady Zyuganov hanya mendapatkan 17% suara. Di tempat ketiga ditempati Mikhail Prokhorov meraih 7,82%. Posisi keempat ditempati tokoh ultra-nasionalis Vladimir Zhirinovsky dengan 6,23% dan mantan Ketua Majelis Tinggi Sergei Mironov dengan perolehan 3,85%.

Kemenangan itu disambut puluhan ribu pendukung Putin yang berkumpul di luar Kremlin sambil mengibarkan bendera Rusia dan spanduk berisi dukungan untuk Putin. Putin sempat tampil bersama Presiden Dmitry Medvedev di hadapan 100.000 pendukungnya dan mengucapkan terima kasih untuk para pendukungnya. Para pendukungnya menerikakkan “Putin! Putin!”. Dia juga menyalami dan memeluk para pendukungnya.

“Saya sudah menjanjikan kemenangan dan kita menang. Hidup Rusia!” tegas Putin dikutip BBC. “Kita telah memenangkan perang dengan pertarungan terbuka dan jujur. Kita telah membuktikan tak ada seorangpun yang bisa memaksakan sesuatu kepada kita.”

Mengenai upaya untuk merusak Rusia dan merebut kekuasaan, menurut Putin, upaya tidak berhasil. “Rakyat Rusia telah menunjukkan bahwa skenario itu tidak berhasil di tanah kita. Mereka tidak akan berhasil!” kata Putin dikutip Reuters.

Putin bakal menjadi sebagai presiden selama enam tahun. Putin bakal dilantik pada Mei mendatang. Dia kembali menguasai Kremlin di saat ada perubahan sosial yang cukup drastis ditambah dengan meningkatkan kelas menengah yang kritis serta ledakan penggunaan internet.

Perayaan kemenangan Putin ini berlangsung di bawah penjagaan ketat. Pemerintah bahkan mendatangkan 6.000 personil polisi tambahan dari luar kota Moskow. Sementara itu, kepala kampanye Putin, Stanislav Govurukhin menggambarkan pemilu presiden ini adalah yang terbersih sepanjang sejarah Rusia.

Sekutu Rusia langsung mengucapkan selamat atas kemenangan Putin. Presiden Venezuela Hugo Chavez berjanji meningkatkan hubungan strategis. Kemudian, Presiden China Hu Jintao mengirimkan pesan selamat.

Kemenangan Putin ini disambut dingin Gennady Zyuganov yang menuding telah terjadi kecurangan. “Kita tidak mengakui hasil pemilu kali ini. Kita menganganggap mereka terpilih secara tidak mendapatkan legitimasi, tidak jujur, dan tidak transaparan,” kata Zyuganov.

Para pemimpin oposisi memperkirakan puluhan ribu orang bakal berdemonstrasi di Lapangan Pushkin untuk menyuarakan “Rusia tanpa Putin.” Pemimpin protes anti-Putin, Vladimir Ryzhkov, mengungkapkan dengan meningkatnya kemarahan warga terhadap Putin, maka dia tidak bisa memimpin Rusia dengan cara yang dia lakukan selama ini. “Pemilu ini tidak bisa dianggap sah dalam banyak hal,” kata salah seorang pemimpin protes anti-Putin, Vladimir Ryzhkov.

Pemilihan presiden ini digelar di bawah bayang-bayang dugaan kecurangan dalam pemilu parlemen Desember lalu yang dimenangkan Partai Rusia Bersatu pimpinan Putin. Organisasi pengamat mengatakan terjadi banyak pelanggaran dalam pemilu parlemen, misalnya pemillih yang dipindahkan ke tempat-tempat pemungutan suara menggunakan bus.

Namun, suara positif mengenai Putin masih banyak disuarakan rakyat Rusia. Banyak para pemilih menganggap bahwa sejak Putin menguasai Kremlin, stabilitas politik dan ekonomi menjadi jaminan. “Saya menginginkan stabilitas. Saya tidak menginginkan perubahan,” kata Maria Budaeva, seorang dosen, 38, pendukung Putin.

Rakyat Rusia semakin bersimpati dengan Putin karena ketegasan dalam kebijakan luar negerinya, termasuk isu Suriah. Retorika yang dimainkan Putin mendapatkan dukungan publik. (andika hendra m)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inovasi Belanda Tak Terpisahkan dari Bangsa Indonesia

Badai Terjang Australia, 3 Orang Tewas

Belajar Inovasi dari (di) Belanda