Krisis Nuklir, PM Jepang Tak Mau Digaji

TOKYO – Perdana Menteri (PM) Jepang Naoto Kan ingin membuktikan komitmennya sebagai pemimpin yang memperhatikan rakyatnya. Dia berjanji tidak akan menerima gaji sebagai PM yang nilainya mencapai 1.636.000 yen sebulan atau USD20.200 hingga krisis Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima berakhir. Namun,Kan tetap akan menerima gajinya sebagai anggota parlemen.



“Dalam posisi itu, saya memutuskan untuk tidak menerima gaji sebagai PM dari Juni hingga kita melihat prospek atas solusi bencana nuklir,” katanya, seperti dikutip AFP. Kepedulian Kan itu mendapatkan respons cukup baik dari publik Jepang. Namun, ada analis yang memandang apa yang dilakukan Kan itu hanya sebagai sandiwara, yakni demi mengangkat popularitasnya yang turun drastis di mata masyarakat Jepang. Bagi Kan, krisis nuklir Fukushima merupakan taruhan masa depan politiknya.



Dia ingin mengambil simpati rakyatnya mengenai isu-isu yang berkaitan dengan nuklir. Beberapa hari lalu rakyat Jepang mempertanyakan kepemimpinan dan penanganan pascabencana yang dilakukan Kan. Dalam jajak pendapat yang digelar kantor berita Kyodo, sebanyak 76% dari 1.010 responden percaya Kan bukan seorang pemimpin yang cakap dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami 11 Maret silam.Apalagi,Kan juga dianggap tidak mampu menyelesaikan krisis nuklir.



Sebanyak 24% responden meminta PM Kan mengundurkan diri secepatnya. Sementara itu,TEPCO (Perusahaan Pembangkit Listrik Tokyo), operator PLTN Fukushima, telah meminta bantuan kepada pemerintah untuk memberikan kompensasi bagi para korban akibat krisis nuklir itu. Akibat krisis itu, ribuan warga yang tinggal di radius 20 kilometer dipaksa mengungsi dari rumah. Mereka pun harus meninggalkan bisnis dan peternakan. Beberapa analis memprediksi kompensasi akan mencapai nilai sekitar 10 triliun yen atau USD125 miliar.



Pemerintah diperkirakan akan memutuskan paket bantuan untuk TEPCO pekan ini. “Bersama dengan TEPCO, pemerintah bertanggung jawab atas tragedi nuklir ini,”katanya. Dua bulan setelah tsunami, gempa,dan krisis nuklir,Kaisar Akihito dan Ratu Michiko kemarin mengunjungi Fukushima untuk menghibur ratusan para pengungsi.Akihito dan Michiko berlutut di lantai di Gelanggang Olahraga Azuma untuk berbicara kepada rakyatnya yang tidak dapat melihat rumah dan ladangnya sejak bencana 11 Maret silam.



Akihito dan Michiko sebelumnya berkunjung ke prefektur Miyagi dan Iwate yang terdampak tsunami. Mereka meninggalkan Tokyo dengan menaiki pesawat Pasukan Bela Diri Jepang. “Apakah Anda baik-baik saja?” tanya Akihito yang berusia 77 tahun kepada seorang perempuan tua yang tinggal bersama 600 pengungsi yang lain. “Jaga kesehatan Anda ya...” katanya kepada yang lain. Kaisar Jepang dianggap sebagai simbol negara dan pemersatu rakyat. Sebanyak 100.000 penduduk Fukushima tinggal di rumah tidak permanen.



Dan 60.000 pengungsi masih tinggal di gelanggang olahraga, sekolah, serta penampungan yang lain. Banyak pengungsi yang masih dihantui ketakutan jangka panjang akibat radiasi nuklir. Wali Kota Takanori Seto mengatakan, kunjungan kaisar mampu mengangkat semangat warganya.



“Kenyataannya, para pengungsi mengalami situasi yang menyedihkan. Mereka ingin kembali ke rumah. Tapi, di depan kaisar, mereka mengatakan: ‘Ya,kami baik-baik saja’,” kata Seto kepada reporter. Menurut Seto, para pengungsi khawatir mereka tidak mengetahui apa yang terjadi di masa mendatang. andika hendra m

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/398502/38/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inovasi Belanda Tak Terpisahkan dari Bangsa Indonesia

Badai Terjang Australia, 3 Orang Tewas

Belajar Inovasi dari (di) Belanda