Kazuo Ishiguro; Menulis Novel bagaikan Menikah Paksa

Lima tahun lalu,ketika novel karya Kazuo Ishiguro berjudul Never Let Me Godirilis, publik menyambutnya.Ketika Never Let Me Godiadaptasi menjadi sebuah film,Ishiguro makin terkenal dan dunia kembali terkagum-kagum.

CERITA novel karya Ishiguro masih berkutat pada perkara cinta, pengorbanan, dan pengkhianatan dalam sebuah kisah pertemanan di asrama sekolah. Ishiguro mengungkapkan, kebanyakan para penonton film bertanya kenapa pahlawan mudanya tidak mampu bertahan hidup. Pertanyaan yang sama juga diungkapkan para pembaca novel itu ketika dirilis pada 2005. Never Let Me Go dibintangi aktris Inggris,Carrey Mulligan dan disutradarai oleh Mark Romanek.

”Orang-orang memiliki reaksi yang sama,” ujar Ishiguro seperti dikutip dari The Canadian Press. Tak bisa dimungkiri, pria 55 tahun itu merupakan salah satu generasi penulis Inggris yang masuk dalam radar perkembangan sastra kontemporer.Novelnya yang paling terkenal adalah The Remains of the Day yang laris manis di pasaran dunia, dirilis pada 1989. Berkat novel tersebut Ishiguro berhasil meraih penghargaan bergengsi Man Booker Prize pada tahun itu.The Remains of the Day sempat menggapai kesuksesan setelah diadaptasi ke layar lebar pada 1993.

Bahkan film tersebut mampu mendapatkan penghargaan Academy Award. Semua novel karya Ishiguro berkisah tentang seseorang yang mengorbankan kehidupan mereka untuk memberontak terhadap norma sosial yang dianggap telah melenceng. Sang tokoh akhirnya mencapai sebuah kesadaran bahwa kehidupan mampu mengubah setiap norma dalam masyarakat tanpa belas kasihan. Awalnya Ishiguro tidak tertarik menulis fiksi sebagai sebuah pekerjaan.“Menulis novel seperti sebuah pernikahan paksa.

Awalnya dingin, tetapi tiba-tiba Anda akan jatuh cinta. Hingga menjadi kecanduan. Akhirnya, Anda tidak bisa melepaskannya,” katanya kepada The New York Times. Bagi dia, seorang pria itu seperti metafor. “Apa yang ditulis lelaki itu berarti kepanjangan tangan untuk bertahan hidup,”paparnya. Siapa sebenarnya Ishiguro? Pria kelahiran 8 November 1954 itu lahir di Nagasaki,Jepang.Ayahnya adalah Shizuo,seorang ahli kelautan; ibunya, Shizuko, adalah ibu rumah tangga. Ishiguro hanya bisa menikmati masa kecil di Jepang selama enam tahun.

Pasalnya, dia dan kedua saudara perempuannya harus pindah dan tinggal di Inggris mengikuti sang ayah yang mendapatkan proyek kelautan dari Pemerintah Inggris. Meski saat itu keluarganya berharap hanya tinggal sementara di Inggris, kenyataannya pekerjaan sang ayah tidak mengizinkan mereka pulang kembali ke Jepang.Pada akhirnya mereka pun harus menjadi warga imigran tetap di Inggris.

Mau tak mau Ishiguro dan kedua saudara perempuannya kemudian menjalani kehidupan masa kecil seperti anak-anak Inggris pada umumnya. Namun, sang ayah sangat memegang kuat tradisi dan budaya Jepang sehingga saat berada di rumah mereka diwajibkan berkomunikasi dengan bahasa Jepang dan menjalani kehidupan layaknya orang-orang Jepang.

Keseharian keluarganya yang tetap mempertahankan tradisi dan budaya Jepang, tak ayal,membuat darah dan jiwa yang mengalir dalam tubuh Ishiguro adalah Jepang. Kedekatan dengan tradisi Jepang itu membuat karya-karya Ishiguro memiliki patron semangat yang sama dengan para penulis Jepang seperti Yasunari Kawabata, Kenzaburo Oe,dan bergaya new age ala Haruki Murakami.

Walau dilahirkan di Jepang—lantaran sudah menjadi warga negara Inggris dan sejak 1960 tinggal di London—dia telah menjadi bagian kultural masyarakat Inggris. Jadilah Ishiguro manusia berkewarganegaraan Inggris yang tetap seorang Jepang.Tinggal boleh di Inggris, tapi dia tetaplah orang asing.“Sama seperti duduk di pojok sebuah ruang dan melihat semua orang yang menganggap Anda bukan bagian dari mereka,”paparnya.

Bagi Ishiguro, menulis adalah ruang dan alat untuk mengawetkan kenangan tentang tanah kelahiran yang tidak dapat dia jumpai lagi hingga 1989. Ishiguro mengambil dan memperoleh gelar sarjana muda ilmu sastra dari Fakultas Filsafat dan Kesusastraan, Kent University, 1978. Selama menempuh pendidikan itu Ishiguro bekerja sebagai pekerja sosial. Pada babakan selanjutnya dia bertemu Lorna Anne MacDougall, yang kemudian diperistri pada 1986.

Dari pernikahan itu mereka dikaruniai seorang putri bernama Naomi, lahir 1992. Ia pun berhasil merampungkan gelar master of arts dalam Program Penulisan Kreatif di Anglia East University di bawah bimbingan Malcolm Bradbury (1932–2000),seorang akademisi sastra dan novelis ternama di Inggris.

NovelpertamaIshiguroadalah A Pale View of Hills yang dirilis pada 1982 dan berhasil memboyong penghargaan Winifred Holtby Memorial Prize,penghargaan dari Perhimpunan Kesusastraan Kerajaan Inggris (Royal Society of Literature). Kemudian novelnya yang berjudul An Artist of the Floating World (1986) tidak hanya memenangkan Whitbread Fiction Prize,tetapi juga dianugerahi Whitbread Book of the Year. Karya-karya Ishiguro telah diterjemahkan ke dalam 28 bahasa. (andika hendra m)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/358408/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inovasi Belanda Tak Terpisahkan dari Bangsa Indonesia

Badai Terjang Australia, 3 Orang Tewas

Belajar Inovasi dari (di) Belanda