Thaksin Ejek Thailand Terkait Spionase
PHNOM PENH (SI) – Mantan Perdana Menteri (PM) Thailand Thaksin Shinawatra, yang juga buronan kasus korupsi, kemarin mengejek pemerintahan negaranya.
Menurut dia, Pemerintah Thailand menggunakan warganya sendiri sebagai “pion” untuk melakukan aksi spionase menyusul ketegangan diplomatik dengan Kamboja. Thaksin memang menjadikan Kamboja sebagai basis untuk menyerang lawannya dan menggalang dukungan barisan ”kaus merah” yang masih setia di Thailand.
Melalui Kamboja Thaksin selalu berkomunikasi dengan timnya untuk melancarkan gerakan pemilu baru, sehingga menggulingkan pemerintahan berkuasa saat ini agar dia bisa kembali ke Negeri Gajah Putih. Miliuner yang dijatuhi vonis bersalah karena penyalahgunaan kekuasaan itu membantu membebaskan seorang teknisi yang tuding menjadi mata-mata untuk mengawasi Thaksin,yaitu Siwarak Chutipongse.
Thaksin sempat menelepon Siwarak setelah ibu Siwarak dan pemimpin partai oposisi Thailand pro-Thaksin Chavalit Yongchaiyudh mengajukan surat kepada Hun Sen agar Siwarak diampuni. Thaksin langsung menghubungi Hun Sen untuk meminta keringanan hukuman terhadap terhukum yang tidak lain adalah warga Thailand sepertinya dirinya. Akhirnya Siwarak, atas bantuan Thaksin, mendapatkan pengampungan dari Raja Kamboja Norodom Sihamoni dan dibebaskan dari vonis 7 tahun penjara.
”Dia (Siwarak) telah dimanfaatkan Departemen Luar Negeri Thailand,”papar Thaksin setelah bertemu PM Kamboja Hun Sen. Thaksin juga menyebutkan Siwarak yang hanya memberikan informasi jadwal penerbangan kepada pejabat konsulat Thailand di Phnom Penh itu sebagai ”korban politik”.Siwarak merupakan tek-nisi di perusahaan pengontrol lalu lintas udara dan pengelola penerbangan sipil di Kamboja.
Hal yang bertolak belakang justru muncul di Thailand.Banyak orang Thailand percaya bahwa Thaksin dan Hun Sen memang sengaja menggunakan isu spionase untuk memperkeruh situasi dan kondisi serta mendiskreditkan Bangkok. Banyak yang menduga bahwa dakwaan dan pengampunan memang telah direncanakan terlebih dulu. Dalam halaman situs jejaring sosial Twitter, Thaksin menulis, ”Siwarak adalah sebuah ‘alat’ dalam gaya Thailand.”
Kritikan terhadap kunjungan Thaksin kedua kalinya ke Kamboja dan pencariannya untuk mendapatkan pengampunan Raja Thailand mampu meningkatkan pencitraannya. Selanjutnya Thaksin menjadi bayang-bayang yang menghantui pemerintahan Thailand saat ini di tengah tingkat popularitas yang rendah dan belum selesainya berbagai persoalan di dalam negeri. Hun Sen mendukung partai pro- Thaksin,Partai Puea Thai,dan menyatakan tidak akan mengekstradisi ”sahabat sejatinya”itu.
Sebelumnya Thaksin berkunjung ke Kamboja, Selasa (10/11), dalam rangka undangan untuk menjadi penasihat ekonomi. Hun Sen mengangkat Thaksin sebagai penasihatnya di bidang ekonomi. Penunjukan itu memperburuk hubungan bilateral yang berpuncak pada penarikan duta besar masing-masing Thailand- Kamboja. Kini dengan kunjungan kedua kali Thaksin, para analis memandang itu memperburuk krisis politik lima tahun mendatang dan menakut-nakuti investor untuk berinvestasi di Thailand.
Dari Bangkok, Deputi PM Thailand Suthep Thaugsuban kemarin mengancam, jika Kamboja menolak ekstradisi Thaksin,maka tidak akan kemajuan dalam perbaikan hubungan Thailand dan Kamboja. ”Saya sangat memberikan perhatian penuh jika Kamboja menolak mengekstradisi Thaksin karena saya tidak mengetahui bagaimana melanjutkan hubungan kedua negara itu,” kata Suthep.
Suthep mengutarakan bahwa tugas pemerintah adalah membawa pulang Thaksin ke Thailand sejak dia dinyatakan bersalah dan masih terlibat dalam aktivitas politik. Departemen Luar Negeri pun melakukan hal yang terbaik untuk berkomunikasi dengan perdana menteri terguling itu. (AFP/Rtr/Nation/andika hm)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/290472/
Menurut dia, Pemerintah Thailand menggunakan warganya sendiri sebagai “pion” untuk melakukan aksi spionase menyusul ketegangan diplomatik dengan Kamboja. Thaksin memang menjadikan Kamboja sebagai basis untuk menyerang lawannya dan menggalang dukungan barisan ”kaus merah” yang masih setia di Thailand.
Melalui Kamboja Thaksin selalu berkomunikasi dengan timnya untuk melancarkan gerakan pemilu baru, sehingga menggulingkan pemerintahan berkuasa saat ini agar dia bisa kembali ke Negeri Gajah Putih. Miliuner yang dijatuhi vonis bersalah karena penyalahgunaan kekuasaan itu membantu membebaskan seorang teknisi yang tuding menjadi mata-mata untuk mengawasi Thaksin,yaitu Siwarak Chutipongse.
Thaksin sempat menelepon Siwarak setelah ibu Siwarak dan pemimpin partai oposisi Thailand pro-Thaksin Chavalit Yongchaiyudh mengajukan surat kepada Hun Sen agar Siwarak diampuni. Thaksin langsung menghubungi Hun Sen untuk meminta keringanan hukuman terhadap terhukum yang tidak lain adalah warga Thailand sepertinya dirinya. Akhirnya Siwarak, atas bantuan Thaksin, mendapatkan pengampungan dari Raja Kamboja Norodom Sihamoni dan dibebaskan dari vonis 7 tahun penjara.
”Dia (Siwarak) telah dimanfaatkan Departemen Luar Negeri Thailand,”papar Thaksin setelah bertemu PM Kamboja Hun Sen. Thaksin juga menyebutkan Siwarak yang hanya memberikan informasi jadwal penerbangan kepada pejabat konsulat Thailand di Phnom Penh itu sebagai ”korban politik”.Siwarak merupakan tek-nisi di perusahaan pengontrol lalu lintas udara dan pengelola penerbangan sipil di Kamboja.
Hal yang bertolak belakang justru muncul di Thailand.Banyak orang Thailand percaya bahwa Thaksin dan Hun Sen memang sengaja menggunakan isu spionase untuk memperkeruh situasi dan kondisi serta mendiskreditkan Bangkok. Banyak yang menduga bahwa dakwaan dan pengampunan memang telah direncanakan terlebih dulu. Dalam halaman situs jejaring sosial Twitter, Thaksin menulis, ”Siwarak adalah sebuah ‘alat’ dalam gaya Thailand.”
Kritikan terhadap kunjungan Thaksin kedua kalinya ke Kamboja dan pencariannya untuk mendapatkan pengampunan Raja Thailand mampu meningkatkan pencitraannya. Selanjutnya Thaksin menjadi bayang-bayang yang menghantui pemerintahan Thailand saat ini di tengah tingkat popularitas yang rendah dan belum selesainya berbagai persoalan di dalam negeri. Hun Sen mendukung partai pro- Thaksin,Partai Puea Thai,dan menyatakan tidak akan mengekstradisi ”sahabat sejatinya”itu.
Sebelumnya Thaksin berkunjung ke Kamboja, Selasa (10/11), dalam rangka undangan untuk menjadi penasihat ekonomi. Hun Sen mengangkat Thaksin sebagai penasihatnya di bidang ekonomi. Penunjukan itu memperburuk hubungan bilateral yang berpuncak pada penarikan duta besar masing-masing Thailand- Kamboja. Kini dengan kunjungan kedua kali Thaksin, para analis memandang itu memperburuk krisis politik lima tahun mendatang dan menakut-nakuti investor untuk berinvestasi di Thailand.
Dari Bangkok, Deputi PM Thailand Suthep Thaugsuban kemarin mengancam, jika Kamboja menolak ekstradisi Thaksin,maka tidak akan kemajuan dalam perbaikan hubungan Thailand dan Kamboja. ”Saya sangat memberikan perhatian penuh jika Kamboja menolak mengekstradisi Thaksin karena saya tidak mengetahui bagaimana melanjutkan hubungan kedua negara itu,” kata Suthep.
Suthep mengutarakan bahwa tugas pemerintah adalah membawa pulang Thaksin ke Thailand sejak dia dinyatakan bersalah dan masih terlibat dalam aktivitas politik. Departemen Luar Negeri pun melakukan hal yang terbaik untuk berkomunikasi dengan perdana menteri terguling itu. (AFP/Rtr/Nation/andika hm)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/290472/
Komentar